Friday, May 17, 2013
Berlari Ke Tanah Tinggi
Saat membuat keputusan, saya masih ragu-ragu. Entah ketenangan yang bagaimana ingin saya rasakan, saya memilih mengikuti rombongan yang asing ini ke Tanah Tinggi Cameron.
Perjalanan singkat bermula seawal 4 pagi hari sabtu sehingga 9 malamnya. Benar, ia singkat dan kebanyakan masa cuma bersiar-siar, memburu foto serta membeli-belah. Padatnya dengan jamuan panorama indah kawasan tanah tinggi yang subur dan padat pelancong.
Ini kiranya sudah kali keempat saya melewati tanah tinggi yang dingin hawanya ini. Seingat saya setiap kali kunjungan, pasti titis renyai menemani jalan-jalan. Bedanya kali ini cuaca begitu nyaman selesa. Matahari bersinar cerah namun dinginnya menyucuk tulang sum-sum. Angin juga menghembus sedikit keras tapi masih menyapa gemalai. Kata seorang pengusaha kebun strawberri, cuaca dengan hujan yang kurang ini baik sekali, strawberri yang terhasil manisnya lebih dari biasa. Ya, saat menikmati strawberri dari kebun itu, saya begitu teruja dengan kemanisan rasanya yang jarang-jarang dikecap.
Kami sempat beristirahat, sambil mencicip kek yang masih panas, baru selesai dibakar bersama strawberri segar dan sos strawberri. Enak sekali dan angin yang kadang-kala menghembus kasar. Sambil tenang berbicara santai.
Setelah itu bermula kegilaan mengeluarkan wang. Ada pasar yang menjual hasil pertanian tanah tinggi serta pelbagai cenderamata yang dikenali dengan nama Kea Farm Market. Di situ, saya memborong pelbagai sayuran dan produk-produk pertanian lainnya. Tidak banyak cenderamata yang saya beli sekadar sarung kaki dan tangan yang tebal, bakal menemani dinginnya perjalanan pulang dalam bas yang dirasakan begitu menyeksakan ketika pergi tadi. Juga 3 jenis kaktus yang berduri dan bulat dimensinya. Tidak terlupa 2 jambangan mawar berwarna merah jambu dan putih.
Penat membeli-belah, kami dibawa untuk solat di Masjid Kayangan dan makan tenghhari di medan selera. Juadah soto menjadi pilihan saya dari gerai no.3. Enak. Teman yang memilih kuewtiaw goreng dari gerai yang sama juga begitu berpuas hati dengan citarasa hidangan yang disediakan.
Perjalanan turun membawa kami singgah ke Ladang Teh Bharat. Pertama kali saya singgah di sini. Lawatan sebelum ini saya cuma sempat singgah ke Ladang Teh Boh. Uniknya teh, minuman ini begitu universal dan sejujurnya agak mahal dan eksklusif. Penanamannya memerlukan suhu dan iklim yang tertentu serta ladang yang luas. Kutipan daun teh masih dibuat secara manual oleh buruh-buruh yang banyaknya dari keturunan india. Pemprosesan masih menggunakan mesin lama sejak berpuluh tahun yang lalu (hasil lawatan di kilang teh boh). Di Ladang Teh Bharat ini tiada kilang untuk dilawati namun panoramanya lebih mengujakan dengan aliran sungan dan air terjun mini di tengah ladang. Saya mengambil keputusan memerhati dari jauh dan tidak turun ke dalam ladang seperti kebannyakan pelawat lainnya.
Di pintu masuk, semua peserta rombongan mengambil gambar kenangan beramai-ramai. Wajah kebanyakan kami begitu ceria. Beberapa ahli rombongan yang membawa kanak-kanak menambahkan keceriaan. Sepanjang perjalanan, saya tidak banyak bicara dengan ahli rombongan yang lain. Sekadar menyapa dengan senyuman dan teguran selamat. Kadang-kala menikmati masa yang berlalu tanpa resah dan rumit perbualan satu ketenangan yang jarang-jarang dicapai.
Sepanjang perjalanan saya benar-benar menjadi seorang pelancong. Bercuti dalam erti kata sebenar. Hingga fikiran juga seakan berhenti memikirkan urusan-urusan rasmi dan tugasan yang menanti. Namun, jelas fikiran saya masih melayang mengingati seseorang. Ingatan yang membuahkan keluhan di sudut perasan. Bagaimana untuk saya membuang ingatan yang mampir tanpa dipinta. Ingatan yang tidak diperlukan mengisi ruang fikiran tapi seperti berlumba-lumba untuk berada di dalamnya.
Saya memilih menikmati pemandangan alam yang menawan dengan zikir yang sambung-menyambung. Bila ingatan itu semakin menyesak, semakin ligat bibir mengitar zikir. Bukankah ketenangan itu milik Tuhan dan mencarinya perlu dengan nama Tuhan.
Perjalanan ke bawah sekali lagi bas berhenti. Kali ini di Lata Iskandar. Saya dilanda kantuk tak tertahan. Hanya menanti di dalam perut kenderaan.
Perjalanan ini singkat. Tentunya saya tidak puas. Berjalan dalam jadual yang disusun pihak penganjur, sedikit sebanyak mendetik tidak puas hati dalam diri. Tapi apakan daya, saya cuma menumpang program orang dan perjalanan ringkas ini sedikit sebanyak melerai kekusutan dengan pelbagai isu dan cabaran yang terpaksa dihadapi di kotaraya.
Inilah kisah pelarian ke tanah tinggi yang sebentar tapi damai.
Friday, May 10, 2013
KPOP : Kegilaan apakah ini?
Gila. Mudahnya begitu. Malah kalau ditanya pada mereka, tanpa ragu mereka akan mengaku "kami memang gilakan kpop (artis/idol tertentu dari korea selatan)"
Marah? Lama dulu sudah saya rasakan. Ketika saya turut gila seperti mereka. Jauh di sudut hati, saya bicara sendiri, 'kegilaan apakah ini?'
Jangan ditanya, adakah saya sudah membenci korea selatan? Hasil karya seni mereka, drama, lagu, muzik, rancangan hiburan masih menjadi santapan jiwa dan masa lapang saya. Malah saya begitu mengagumi budaya tradisi serta usaha gigih penggiat seninya. Dari satu sudut, saya mencemburui dan ada ketika saya mensyukuri.
Baca saja entri-entri lalu, banyak ulasan drama-drama dari korea selatan mengisi lembaran-lembaran blog ini. Sungguh, kegilaan itu memang ada, namun, jangan terus gila hingga tidak mengerti mana benar, mana salah. Sehingga menafikan fungsi akal dan hati untuk berfikir dan merasa.
Adik-adik, rasa cinta dan suka itu memang indah, memang mengasyikkan. Kadang-kala untuk berhenti itu sukar. Berbahagialah, Allah campakkan rasa indah itu dalam diri adik-adik.
Namun, jangan nodakan kecintaan itu dengan kebencian pula. Benci pada sesuatu yang kurang atau tidak mencintai apa yang kita cinta. Memahami setiap manusia itu punya kecenderungan seperti adik-adik juga. Menghormati hak setiap manusia itu adalah cara kita hidup dan berkomunikasi dalam dunia yang bertamadun.
Apa yang paling utama, mengerti, apakah sebab adik-adik berada di atas muka bumi ini? Hidup dan merasakan cinta?
Saya menghormati impian dan harapan adik-adik bertemu dengan bintang pujaan masing-masing. Tidak dinafikan bertemu dengan yang dicintai adalah impian setiap dari kita malah saya sendiri akan begitu teruja untuk bertemu insan-insan yang saya cinta, puja dan suka.
Namun, memahami kehidupan ini lebih daripada 'tentang kita'. Kadang-kala kita perlu ambil masa dan melihat persekitaran. Ketika kita sedang enak dibuai merdunya nyanyian lagu dendangan artis pujaan, ada segelintir masyarakat yang perutnya mendendangkan simfoni kelaparan dan kebuluran. Sedang kita begitu teruja melayari laman sesawang memaparkan kisah-kisah sensasi idol popular, ada segolongan yang masih tidak mengenal monitor dan papan kekunci, apatahlagi perisian dan media maya.
Tidak mahu memanjang bicara hingga dikatakan membebel pula, cuma, jangan jadi gila jika masih punya akal yang waras. Berfikirlah. Kerana orang gila itu begitu istimewa, mereka masuk syurga tanpa dihisab. Tapi bagi yang mahu jadi gila, anda masih perlu melalui mizan dan titian sirat...
Iron Man 3 : another hero story
I am thinking now... when was the last I am watching movie? Totally, I am too 'busy' to have leisure time to watch any movie or drama either on laptop screen, tv, and dont have to mention cinema. However, one night free and my little brother (who just quit his work), my cinema buddy also have free time, and we choose this superhero movie, iron man 3 to watch.
I have no idea, who is this iron man. Unlike superman, batman and spiderman, iron man have no memories in my life. But, nothing to lose to watch the movie. And, the story is quit leisure, some humor, some suspense and some intense. The feel is vary. But, my favourite superhero still batman, the dark night.
Back to topic, when watch a movie, there are two aspect that I will look into; technical part and content part. Technically, it is average... I love the acting but not the best acting i ever see, I love the technology effect, the robot, the smart editing, but likewise, there are better then this movie. So, technically this movie just average and the production does not make me feel the iron man is the best film, i can just say, okla....
Content... ok the sexual part.. I dont like it... (oh, did i forgot it is essential for hollywood movie to have it since i stop watch movie too long..huhu). Others, I dont know... the line story i feel not very focussing... and i feel distracted and unsatisfy in many scene... no touching deep inside and may be there are some quotes the worth to copy, but it just a sentence with less emotion.
this is post general election season, and everywhere talk about politic. Then, this film have some political issue in it... may be i need some analysis, but the theory how some people that so called terrorist is only an acting for the person/organisation that have bigger intention to control the world. so, the production give the terrorist issue some part in this movie.
Thursday, March 14, 2013
My Dream
My Dreams
☆ Writing
★ Write a book (at least)
★ Update blog (current issues, reviews)
★ Travelog (each time musafir/program)
★ Regular Column Writer
★ Regular Cerpenist
☆ Properties
★ A reasonable size house with small garden and library
★ A suitable vehicle
★ A small office/shop/café/factory
★ A small farm with multi plants and animals
☆ Career
★ Build social and business network
★ Experience in NGO, private and government
★ Getting place in education institution
★ Long term research and sharing knowledge
The paths
↗ Find my passion (social work, travel, learn)
↗ Further studies (postgraduate diploma, master, doctor of philosophy)
↗ Start small business with committed (books, drink process, café, boutique)
Actually, i'm writing all the above when i am struggling in my final semester...then, when finish..i am too busy to review...
Then, realize that one of them is to UPDATE BLOG.. erk... ok i'm writing now...
Its just my dream..and it's my effort to achieve it...n i'm hoping just pray for me.... ^_^
Then, realize that one of them is to UPDATE BLOG.. erk... ok i'm writing now...
Its just my dream..and it's my effort to achieve it...n i'm hoping just pray for me.... ^_^
Thursday, February 14, 2013
Kekasih
Cinta sering
disalah ertikan. Maka cinta perlu diertikan. Hanya kerana tidak mengerti
tentang cinta, jangan semua kekasih menjadi mangsa.
Pasti cinta bukan
sekadar mengenang hari kekasih tapi dinamakan hari kekasih kerana wujudnya
makhluk bernama cinta. Maka adakah salah untuk meraikannya kerana wujudnya
cinta yang kembang mekar di dalam jiwa?
Mengulang kisah
Qaisy yang gila dan Laila yang derita kerana mereka menanggung rasa cinta yang
membara. Bukan mahu membuka hikayat. Namun kisah cinta agung karangan sufi ini
membawa nilai tersendiri. Betapa cinta adalah ujian yang begitu menduga kerana
di dalamnya terkandung nafsu dan percaya.
Silap aturan
kepercayaan bisa dirobek nafsu yang bermaharajale. Sehingga menyangka ada
penyatuan abadi dengan bertindak ‘kamikaze’bagai penyelesaian cinta dua darjat
Romeo dan Juliet. Lebih derita bila kepercayaan terus musnah bila cinta hanya
sekadar terkandung nafsu semata.
Maka mengertilah
yang diperangi adalah nafsu yang membelenggu cinta. Bukan rasa percaya yang mengawalnya.
Jika jauh di sudut jiwa, ada kepercayaan yang begitu padu berupaya mengawal
hawa nafsu, silakan sahaja untuk bercinta. Tapi jika nafsu lebih terpercaya,
maka hati-hatilah bermain cinta kerana bakarannya mampu melebur apa saja.
Sekadar menawar
perbezaan, bahawa cinta itu bukan sekadar dua gender berlawanan. Bukan sekadar
terukir antara Qaisy dan Laila atau Romeo dan Juliet. Kisah cinta yang melatari
kehidupan sahabat zaman anbiya memberi teladan bahawa manusia yang beragama itu
hidupnya adalah cinta. Sehingga mereka percaya untuk mengorbankan apa sahaja
demi rasa cinta yang telah disemai dalam jiwa.
Mencontohi para sahabat
yang saling bercinta, kami raikan hari kekasih ini. Bukan mahu menyokong
sambutan mengenang valentine, tapi mengerti bahawa sahabat adalah kekasih yang
perlu untuk diraikan. Serta cinta perlu diertikan!
kisah laila majnun di sini
Wednesday, February 6, 2013
Himpunan Helwa Kebangsaan 2013 (Bahagian 1)
Lama sekali tidak
mengenakan hijab merah jambu, warna ini memang kegemaran saya, namun, hitam
kekal pilihan saya dalam memilih warna menggayakan busana. Sempena hari
istimewa ini, saya sarungkan juga tudung merah jambu dari adik comel Alin.
(Terima kasih Alin, nanti akak pulangkan ye tudungnya)
Sebagai jawatankuasa
pendaftaran, kebanyakan masa saya di meja pendaftaran, menanda kehadiran,
mengutip yuran serta mengedar ‘beg program’. Namun, sedaya upaya saya mencuri
ruang dan peluang mengikuti setiap slot sepanjang himpunan. Serta mendekati
seramai mungkin ahli wanita jemaah dari seluruh negara.
Upacara perasmian
bakal berlangsung, maka kaunter pendaftaran di tutup sementara. Saya ukir
senyum manis dan meminta izin dari Kak Ju, ketua jawatankuasa pendaftaran untuk
turut serta mengikuti majlis perasmian di dalam dewan. Bila saja Kak Ju
menganggukkan kepala, pantas saya angkat punggung menuju pintu belakang dewan
yang perlu menaiki tangga ke tingkat dua.
Sudah ramai yang
memenuhi ruang di bawah dewan. Ruangan duduk di tingkat 2 masih punya banyak
ruang kosong, oleh kerana saya bersama Che Ah, seorang hewi dari delegasi Perak
yang menuntut di USIM, 2 tempat kosong yang mudah untuk masuk di perlukan.
Bacaan al-Quran
masih di alunkan. Syukur, baru bermula. Kami mengambil tempat. Giliran Dr
Rahmah pula memberikan kata aluan selaku pengarah program. Terimbau kenangan
gerak kerja sepanjang sebelum program ini bermula. Pasti, ada suka dan duka.
Bukan mudah melaksanakan program sebesar ini, melihat jumlah kehadiran yang
memenuhi tiap ruangan di bawah dewan menerbitkan rasa syukur tak terhingga
dalam diri. Jawatankuasa yang terdiri dari 3 generasi datang dari WADAH, ABIM
dan PKPIM, memerlukan daya toleransi dan kefahaman serta berlapang dada yang
tinggi. Ungkapan Dr Rahmah bahawa ‘yang muda perlu bersabar dengan yang tua,
dan yang tua perlu menyayangi yang muda’, begitu mengesankan saya. Sungguh,
walau kami baru mengenali, namun, rasa cinta seperti sebuah keluarga mendetik
dalam jiwa. Sungguh, menjayakan program sebesar ini bukan sekadar bilangan
adalah hasilnya tapi taaruf yang terakam sepanjang menjayakan program ini
merupakan hasil yang lebih-lebih mengesankan. Saya dan sahabat HEWI PKPIM
menjadi lebih matang mendepani jurang usia dalam melaksanakan gerak kerja. Moga
usaha ini mendapat redha dan barakah dari Allah s.w.t.
Seterusnya, saat
yang ditunggu-tunggu adalah ucaptama dari Dato’ Dr. Siddiq Fadzil. Saya begitu
teruja siap sedia memasang perakam suara. Memang tabiat saya merakam setiap
program yang saya hadiri jika berpeluang (walau jarang saya mengulang dengar).
Ucapan bermula menarik namun sedikit hambar bagi saya yang sering kali
mendengar bicara Ust Siddiq, barangkali kerana di pandu teks ucapan.
Namun, isinya
membina. Dimulakan dengan menyingkap sejarah fenomena ‘mini telekung’ era 70 an
serta karya-karya klasik yang mengangkat watak-watak hebat wanita. Seterusnya,
di sentuh kisah wanita dalam al-Quran dengan Maryam binti Imran yang menjadi ‘ayat’
atau tanda kebesaran Allah serta Asiah isteri Firaun yang diangkat menjadi
wanita yang teguh mempertahankan prinsip keimanan dalam lingkungan kesyirikan. Inti
utama mengulas panjang lebar pengorbanan Saidatina Khadijah sebagai seorang
isteri, pejuang agama yang meninggalkan kesenangan materi yang melingkari
hidupnya demi menyokong dan mendokong perjuangan Nabi Muhammad s.a.w. Serta
kisah Saidatina Aisyah, isteri Rasulullah yang cerdas yang berdepan ujian
fitnah. Saidatina Aisyah menjadi simbol kekuatan seorang manusia berdepan ujian
dengan redha dan sabar serta menjadikan Allah semata-mata sebagai tempat
sandaran dan meminta pertolongan. Sebelum berakhir, kisah wanita terlibat dalam
perjanjian penting baiatul aqabah menonjolkan peri penting peranan wanita dalam
sosiopolitik ummat. Akhirnya, Ust Siddiq, secara kritis dan sinis mengkritik
sistem feudal dan politik masakini serta meluahkan harapan agar berlaku
tranformasi dan taghyir dalam semua sudut kehidupan. Ternyata, ucaptama ini
begitu menginspirasi dan meningkatkan lagi semangat wanita jemaah.
Seterusnya,
penganugerahan dua tokoh wanita yang cemerlang dan berjasa dalam bidang
masing-masing. Ketika anaugerah Saidatina Khadijah di umumkan, ramai yang
merasa kagum dan terharu dengan kekuatan dan kecekalan luar biasa seorang
wanita yang tampil lembut namun keras berdepan mehnah dan cabaran. Biarpun ada
yang mempersoalkan, bagi saya siapa lagi yang layak untuk menerima anugerah
tokoh wanita dengan tinggi keperibadian dan akhlak yang setia di belakang suami
serta turut serta terjun ke lapangan ummat demi menegakkan kebenaran dan
keadilan.
Ketika mengumumkan
penganugerahan Saidatina Aisyah, hampir semua yang hadir mengalirkan air mata.
Malah Kak Dib yang membacakan biodata turut teresak. Saya turut menyedari Ust
Siddiq di sofa atas pentas mengesat air mata. Sungguh, pemergian seorang
pahlawan dikenang selamanya. Betapa kehilangan arwah begitu dirasai. Mereka
yang sama-sama berjuang dalam gerakan ini bersama-sama arwah pastinya tidak
dapat membendung air mata. Malah, saya yang hanya pernah bertemu arwah sekali
ketika menghadiri program turut tidak mampu menahan air mata dari mengalir.
Usai penyampaian, saya
bergegas keluar. Kaunter pendaftaran perlu di jaga, dan saya sedikit kaget
melihat begitu ramai yang hadir dan duduk bersila bersama anak-anak kecil di
atas permaidani berhampiran pintu masuk dewan. ‘Memang penuh dewan’, saya cuma berbisik di
dalam hati dan pantas menuruni anak tangga
ke meja pendaftaran.
Sesaat melabuhkan
punggung ke kerusi, bertali arus peserta datang untuk mendaftar. Beberapa kali
mengedipkan mata yang berair rasa terharu dengan majlis perasmian dan mengukir
senyuman pada wakil-wakil delegasi yang datang.
Wednesday, January 30, 2013
Jatuh
Jatuh. Bila difikir-fikirkan jarang sekali saya 'jatuh'.
Dan sakitnya....saya hilang akal seketika. Dan saya mencari erti, kesakitan yang dilalui, pasti ada hikmah tersembunyi.
Saya masih ingat, peritnya 'jatuh' kali pertama. Menangis sepanjang malam, dan buntu mencari arah tujuan.
Bukan sekali, malah berkali-kali. Terdetik di hati untuk selamanya pergi. Hanya, satu kepercayaan yang menyelamatkan saya bahawa kesakitan ini cuma sementara.
Dan kesakitan ini mengajar saya untuk kembali pada-Nya. Pada nikmat yang begitu banyak dikurnia. Dan saya...seringkali terlupa dan jarang sekali melimpahkan rasa syukur dan cinta.
Tuesday, January 15, 2013
Listen, Listen, Listen, About Our Right!
Okay. Tak mudah nak menulis dalam bahasa
melayu penuh tapi kerana saya ada rasa ‘hormat’ pada bahasa kebangsaan, saya
akan cuba.
Saya yakin memaparkan kesalahan dan kesilapan
manusia lain adalah satu usaha untuk memalukan dan menjatuhkan maruah individu
terbabit. Pasti, saya tak akan setuju dengan tingkah laku seperti itu. Tapi
kalau seseorang itu secara tak sengaja mendedahkan keburukan dan kelemahan diri
semata-mata berniat untuk menjatuhkan orang lain, bagaimana ye?
Okay, saya bukan mufti untuk keluarkan fatwa
tapi saya pening dengan sikap sesetengah manusia yang sengaja buang sampah
merata-rata tapi selepas itu akan buang masa untuk kutip sampah tersebut satu
persatu semata-mata mahu menunjuk-nunjuk betapa rajinnya dia mengutip sampah
walaupun dia buang sampah pun depan orang ramai juga. (Betul kah perumpamaan
ini?)
Okay, berbicara soal hak. Mari kita merenung
seketika hikmah penciptaan manusia. Selalu kita dengar beza manusia dan haiwan
adalah akal. Bukan saya tidak setuju, memang benar, tapi satu lagi perbezaan
terpenting antara manusia dan binatang adalah hak. Manusia diberi keistimewaan
oleh Allah kerana manusia memiliki hak manakala haiwan tidak.
Hak apa? Hak kebebasan, hak memilih, hak bekerja,
hak belajar, hak makan, hak minum, hak tidur (okay, bahagian ini adalah hak
haiwan juga), hak bercinta, hak merindu, hak bersuara, hak bertanya, hak
meluahkan pendapat, hak berkata-kata, hak memegang mikrofon, hak menjerit, hak
merampas mikrofon? Hak menghalau keluar? Hak memotong hujah? Hak menggunakan
bahasa rojak? Hak menepuk tangan? Hak bersorak? Hak berdiam diri?
Okay, banyak lagi hak dan saya malas nak
senaraikan. Tentu itulah keistimewaan manusia yang Allah ciptakan
denganpelbagai hak berbeza dengan binatang malah hak untuk membela nasib
binatang juga ada pada manusia serta hak untuk menyeksa binatang juga ada pada
manusia (kenapa saya gunakan hak bukan pilihan?). Sebab isunya manusia selalu
berbicara soal hak asasi, dan segala pilihan yang ada di dunia, baik dan buruk
diangkat menjadi hak ASASI. (Bukan yang asas pun jadi hak asasi)
Paling penting adalah hak beriman. Inilah yang
paling membezakan manusia dan haiwan kerana istimewanya haiwan, mereka dicipta
tanpa hak untuk beriman lalu mereka semuanya tunduk dan patuh kepada Allah
sedangkan ruginya manusia yang punya pelbagai hak perlu memilih untuk mengimani
apa?
Maka (dengan izin) ‘human right’ bukan sekadar
isu hak asasi manusia tapi saya lebih suka menggunakan istilah (dengan izin) ‘karamah
insaniyyah’ ata kemuliaan insan. Manusia yang berhak adalah manusia yang
diberikan kemuliaan untuk menjalani kehidupannya sebagai manusia.
Memuliakan manusia bukan sekadar memandang
wajahnya, tersenyum, bersalam, dan sebagainya, tapi memuliakan manusia adalah
memberikan hak kehidupan yang sewajarnya dia peroleh sebagai manusia.
Jika dia anak, dia berhak mendapat hak sebagai
anak. Jika dia pekerja, dia berhak mendapat hak sebagai pekerja. Jika dia
pengundi, dia berhak mendapat hak sebagai pengundi. Jika dia pelajar, dia
berhak mendapat hak sebagai pelajar.
Persoalannya, bagaimana menentukan hak
tersebut? Bagi orang Islam, saya akan mengajak untuk kembali kepada Al-quran
dan sunnah, jadikan sirah nabawi sebagai pengajaran yang berguna. (negara Islam
Madinah patut dijadikan hujah jika melawan hujah seorang Islam yang jahil
kerana sejahil-jahil orang Islam itu, jika dia masih mahu mengucap dua kalimah
syahadah, pasti tidak boleh membangkang negara Islam Madinah yang diasaskan
Rasulullah sebagai hujah bandingan dan pasti kita tidak boleh kembali ke zaman
itu untuk hidup dalam negara tersebut.) Namun, bagi bukan Islam, hak ditentukan
dengan pelbagai cara dan itu sama sekali tidak salah kerana selagi anda
bergelar manusia, anda berhak! Dan saya percaya itu.
Sebenarnya dalam isu video forum mahasiswa di UUM ini, saya tidak merasa kasihan langsung (okay, adalah sedikit) kepada gadis India yang dinafikan hak untuk berbicara tapi lebih kepada rasa kagum melihat keberaniaannya menyanggah hujah penceramah yang menunjukkan betapa dia sedar hak dia sebagai pendengar dan juga manusia pastinya. Tapi, saya simpati dengan penceramah muda yang bersungguh-sungguh bersuara tapi tidak memahami bahawa dia sedang menafikan haknya sendiri sebagai manusia yang bebas dan merdeka dengan membiarkan haknya diinjak dengan menjadi taksub kepada satu sistem yang sama sekali menginjak-injak hak manusiawi.
Okay, manusia bukan robot, bukan mesin, manusia berhak untuk memberi sokongan dan memberi bantahan. Kenapa mahu menafikannya jika benar anda memperjuangkan hak.
Baik, bersyukur. Bagus bersyukur. Malah dituntut dalam Islam. Dapat telefon pintar pasti lebih-lebih lagi perlu bersyukur. Tapi, untuk bersyukur juga hak manusia. Hak manusia untuk rasa bersyukur dangan apa yang ada sekarang dan rasa tak cukup dengan apa yang ada sekarang. Kalau mahu mengajar syukur, sila edarkan telefon bimbit tanpa skrin sentuh dan warna yang hanya hanya boleh digunakan untuk membuat panggilan dan berbalas mesej. Kenapa mahu di edar telefon mahal? Itu bukan ajaran syukur, itu ajaran tidak cukup dan meminta untuk kehidupan yang lebih baik.
Saya sekadar menggunakan hak yang ada untuk memberikan pandangan. Anda sebagai manusia berhak untuk menerima atau membantahnya. Terima Kasih!
Link video di sini
Sunday, January 13, 2013
KL112 : Bukan sekadar jumlah kehadiran....
Perjalanan kami bermula dari ERL Putrajaya...
'Tak pernah ERL seramai ini,' teman saya bersuara. Mata meliar memerhati penumpang ERL yang menyarung t-shirt merah, hijau dan kuning sambil tangan kejap memegang tiang memaut diri (berdiri, tiada tempat duduk kosong dan ramai berdiri). Saya cuma berdiam kerana pertama kali menaiki ERL dan tidak mampu membuat perbandingan. Namun senyuman mengiringi perjalanan keretapi letrik pantas menuju KL sentral.
KL sentral menghadapi fenomena warna serupa. Ditambah ungu dan oren. Tujuan kami adalah hotel premier. Tempat keluarga teman saya ini menginap. Keluarganya begitu semangat sehingga menempah bilik hotel. Saya pula berdepan keraguan melepaskan diri oleh keluarga. Ibu saya bukanlah penyokong Barisan Nasional, namun, bila saluran informasi hanya tv. Keresahan dan kebimbangan turut menyelinap dalam hati, tambahan sifar kefahaman tentang himpunan yang akan dianjurkan. Tapi, saya memang keras untuk lembut mengakur dan saya yakin ibu pasti memahami penglibatan saya ini. Pasti, beliau memberi keizinan dengan seribu pesanan.
Keluar dari KL sentral, ragu mencari arah. 2 orang lelaki berkuturunan India pertengahan usia laju melangkah, saya tegur menanya arah. Pasti, mereka juga keliru di mana terletak pasti hotel tersebut. Pasti, laluan ke stadium merdeka tujuan mereka sambil bertanya arah sebenar perjalanan kami. Saya mengangguk iakan. Itu misi utama namun, kami perlu mampir ke hotel tersebut meletakkan beg pakaian yang dibawa teman saya dan singgah solat zohor.
Antara yakin dan percaya, kami melangkah bersama. Berbual basa-basi dengan 2 uncle yang saya terlupa bertanya nama. Berbicara soal kepincangan sistem pentadbiran dan keperluan untuk berubah. Saya menghadapi sedikit kesulitan menghadam kefasihan berbahasa Inggeris mereka. Mengeluh kelemahan diri tidak menguasai Inggeris sebaiknya atau kesal betapa bahasa Inggeris begitu rutin sehingga menjadi pertuturan harian yang lebih selesa diguna pakai dari bahasa kebangsaan. Namun, saya hanya membalas dengan senyuman dan ucapan terima kasih ketika hotel premier yang dituju kelihatan susuknya. Pastinya walau berbeza keturunan dan budaya, kami berkongsi idealisme serupa. Terasa perpaduan warga Malaysia terjelma.
Usai solat, dari jendela hotel di aras 14, kelihatan 'barisan rakyat' bergerak panjang dan padat di atas jalan. Teruja untuk menyertai. Berkobar untuk menggabungkan diri. Lantas, kami bergegas ke lif menuruni hotel dan melangkah pantas ke arah khalayak rakyat.
Adakah istilah untuk menggambarkan sangat sangat sangat ...... ramai ini? Saya jarang menyertai demonstrasi jalanan. Namun, pasti inilah demonstrasi (jika sesuai istilahnya) paling ramai pernah di adakan di Malaysia. Syukur, Saya dapat menyaksikan dan menjadi sebahagian daripadanya.
Setelah memetik kamera untuk gambar dan video. Kami menggabungkan diri. Melangkah perlahan mengikut arus manusia. Sesak, terhimpit. Namun aman. Namun selamat.
Saya bukan penggemar demonstrasi. Berpanas, berhimpit, apatah lagi bercampur lelaki wanita. Lemas dan rimas malah resah tidak dapat menjaga batasan dan maruah. Namun, entah bila bermula, saya mendapat perspektif berbeza soal himpunan demonstrasi baik di jalanan mahupun dataran.
Sambil melangkah, menjaga diri dan air wuduk yang masih lagi ada usai solat zohor tadi. Dalam sorak dan laungan semangat, saya dan teman sempat bergurau...
'tak terjaga wuduk kita.' Senyum.
'latihan untuk mengerjakan haji.' Sengaja saya memberi alasan. Seorang ustaz yang kami kenali lalu. Ketika menegur dia selamba berbicara, 'latihan tawaf dan padang arafah'. Kami terdiam sejenak sebelum tertawa perlahan. Bukan kami sahaja memikir seperti itu.
'Iktibar dari demonstrasi...
pertama, latihan untuk pelaksanaan haji,
kedua, reunion sahabat dan teman lama," kami senyum. Pandangan berlegar melihat beberapa peserta perarakan menyerbu sebuah van sarat dengan minuman untuk jualan.
'dan peluang perniagaan.' kami ketawa. Riang sebenarnya berdemo ini.
Memandang keliling tiada yang tertekan terhimpit dan tersepit. Semua melangkah tenang penuh semangat. Bila ada kesulitan ramai bertolak ansur memberi laluan dan menghulur bantuan.
Perjalanan berterusan dengan aman. Kelihatan beberapa kenderaan yang tersepit di kalangan demonstran. Melihat penumpang di dalam, tenang menunggu redha perarakan atau sabar memusing kenderaan dengan senyuman keluar dari khalayak demonstran. Ah, warga kita memang penuh kesedaran dan pemahaman, isu sehari terperangkap dalam lalulintas demi kebebasan dan kelestarian hidup rakyat bukanlah isu besar yang sengaja diperbesarkan golongan tertentu.
Sehingga tiba di persimpangan monorel hang tuah menuju ke satadium, perjalanan kami terhenti. Ya, laluan itu terlalu padat. Kami cuba juga melangkah. Namun, tidak berjaya. Hasrat untuk ke stadium terpaksa di padamkan. Dalam hati mengutuk diri keluar terlalu lewat bila ramai yang menuju stadium awal-awal pagi lagi.
Di persimpangan itu, beberapa wakil NGO dan Pakatan Rakyat memberikan ucapan. Saya cuba memberi perhatian. Tapi sedikit sukar. Namun ada ucapan seorang wakil menarik penumpuan saya, '...inilah perhimpunan yang diadakan oleh rakyat dan ditaja oleh rakyat.....'
Ya, ini adalah program yang ditaja oleh rakyat. Saya hadir dengan wang saku yang terhad dan tawakal yang menggunung tinggi. Tanpa paksaan dan tanpa tajaan pastinya. Kehadiran di sini dari seluruh ceruk tanah air tanpa sebarang huluran kewangan. Melihat semangat generasi warga emas dengan tongkat dan di papah anak-anak. Beralih pula melihat anak-anak kecil melangkah yakin tanpa rungutan apatah lagi tangisan. Ini bukan persoalan biasa, luar biasa melihat taburan generasi yang rela dan redha turun ke jalanan menunjukkan harapan dan impian untuk berubah. Saya terfikir, adakah ini suasana ketika kemerdekaan di umumkan lebih 50 tahun lalu. Bila berduyun-duyun warga keluarga meraikan pembebasan sebuah negara yang sekian lama tertindas oleh penjajahan. Terus tertanya-tanya, adakah suasana ini menggambarkan selama lebih 50 tahun Malaysia mengecap kemerdekaan, rasa tertindas serta kebebasan yang di injak melilit kehidupan rakyat hingga memaksa mereka keluar untuk menuntut kebebasan itu kembali?
Teman menggamit untuk kami bergerak pulang. Maaf, saya tidak menanti hingga himpunan bersurai dan melangkah pulang lebih awal. Ketika melangkah saya mencadangkan melencong ke Petaling Street mencari tempat mengisi perut. Baru terasa perut berkeroncong, kerana saya cuma sempat bersarapan pagi tadi.
Berjalan sekali lagi tanpa memahami arah laluan sebenar. Kami berdua memang dari selangor, hidup dalam kebanyakan usia di selangor, namun, berdepan jalan-jalan di kuala lumpur, kami masih seperti rusa masuk kampung. Sepanjang jalan, demonstran dengan baju warna tema merah, hijau, kuning, oren dan banyak lagi mengisi jalan-jalan. Kebanyakan kedai tutup, tidak pasti kerana demonstrasi atau hari cuti, tapi pasti kedai makanan yang di buka penuh pelanggannya. Kami terus melangkah mencari tempat sesuai mengisi perut.
Akhirnya, papan tanda marry brown menggamit kami. Saya tidak begitu gemar menikmati marry brown, namun, tidak begitu mudah mencari medan selera lain, saya ambil keputusan untuk mengisi perut di situ. Kelihatan ramai juga demonstran yang lain turut memilih restoran makanan segera ini.
Tidak ketinggalan dua anggota polis lengkap seragam turut menikmati burger dan ayam goreng di marry brown ini. Saya hampir terlupa mengucapkan terima kasih kepada pihak polis yang memberi kerjasama terbaik sepanjang himpunan. Lihat, jika tiada provokasi, polis yang bertugas turut boleh menjamu selera dengan tenang dan kenyang... =)
Tanpa sedar, rupanya restoran ini berdepan dengan lrt pasar seni yang bersambung dengan stesen komuter kuala lumpur. Saya akan bergerak pulang ke bangi dan teman saya akan menuju kembali ke hotel premier. Kami berpisah. Saya meneruskan langkah sendiri membeli tiket komuter.
Terpegun tiket manual komuter berupa resit cetak ditulis tangan oleh penjaga kaunter. Senyum lagi dan pandangan tertebar melihat di mana-mana demonstran berada.
Komuter berjalan lancar. Barangkali saya agak awal pulang. Masih beratus ribu di stadium dan sekitar. Sambil menanti komuter dan sepanjang perjalanan, update himpunan saya ikuti melalui facebook dan blog.
Tiba di stesen ukm, turun bersama saya, peserta perarakan lainny. Dari mula perjalanan hingga penghujung ada peserta himpunan bersama saya. Dan bilangannya bukan seorang dua..tapi lebih sepuluh orang. Terfikir, perarakan himpunan kebangkitan rakyat tidak bermula di sekitar KL di check point yang telah ditentukan tapi bermula sepanjang perjalanan dari seluruh pelusuk negara!
Pasca perhimpunan, jumlah kehadiran menjadi isu untuk dipolemikkan. Pasti, itulah 'outcome' sebuah perhimpunan, bilangan menampilkan kejayaan dan kegagalan. Saya akui, jumlah itu menggoda saya untuk turut serta. Namun, KL112 punya makna lebih dari sekadar mengira jumlah kehadiran....
Gambar-gambar yang sempat di rakam (saya akui perlu masuk kelas fotografi...huhu)
dari tingkat 14 hotel premier
sebelum menggabungkan diri
tak pasti hujung pangkal
ada sisters, bergegas melintas untuk bergabung...
antara polis yang terlibat. Yang sempat ambil gambar...byk lagi sebenarnya...
terima kasih dalam melancarkan lagi perjalanan perhimpunan.. ^_^
kebetulan.. (tiz zaqyah tak terlibat dalam himpunan kali ini...may be lain kali...^_^)
di marry brown, demonstran yang beratur memesan makanan, gmbar sebahagian bendera pas milik demonstran yang menjamu selera di meja sebelah. (saya bukan ahli parti politik, so, tak miliki sebarang bendera parti ^_^)
tiket manual komuter untuk pulang ke bangi (stesen ukm)
Subscribe to:
Posts (Atom)



































